Kamis, 23 Mei 2013

Patient Safety

Patient Safety
Patient safety merupakan  suatu inisiatif yang relatif baru dalam pelayanan kesehatan. Pasient safety merupakan upaya-upaya pelayanan yang mengutamakan keselamatan pasien.  Penekanannya adalah pada pelaporan kejadian yang merugikan pasien, pencegahan terhadap kesalahan medis dan pencegahan perawatan yang merugikan kesehatan pasien (Ashish Jha, 2008).
Patient safety  dikenal sejak 1990 ketika banyak dilaporkan  jumlah morbiditas dan mortalitas setiap tahun di berbagai negara. Patient safety merupakan pesan penting secara global yang harus diterapkan oleh seluruh tenaga kesehatan di seluruh negara yang tergabung dalam WHO. Pada tanggal 27 Oktober 2004 WHO meresmikan World Alliance for Patient Safety yang bertujuan untuk mengkoordinasikan aksi-aksi global berkaitan dengan keselamatan pasien dan melawan permasalahan-permasalah kerugian pasien yang semakin banyak dilaporkan (Donaldson, 2004). Aliansi ini memfasilitasi suatu bentuk kepemimpinan yang memastikan terjawabnya permasalahan krusial di seluruh dunia dengan harapan terselenggaranya praktik baik dalam setiap pelayanan serta dapat dipastikan setiap penentu kebijakan di seluruh negara menekankan patient safety dalam strategi nasionalnya. Dengan kalimat  lain dijelaskan bahwa setiap sistem kesehatan di seluruh dunia mempunyai peluang untuk menciptakan suatu bentuk pelayanan yang aman dan nyaman bagi pasien. Sebagai langkah awal adalah  menjamin komitmen dari pemimpin negara, penentu kebijakan dan seluruh unsur profesi/tenaga kesehatan di seluruh dunia menuju suatu bentuk pelayanan yang aman bagi pasien sehingga mampu menyelamatkan kehidupan dan mengurangi kerugian – kerugian pasien.
a. Startegi Patient Safety
Strategi dan tantangan globlal dalam pelaksanaan patient safety menjadi issue yang semakin diperhatikan oleh pelaku pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Ini disebabkan oleh semakin diterimanya konsep patient safety diseluruh dunia, sebagai upaya untuk mengurangi kesakitan dan kematian ataupun kerugian-kerugian pasien. Tantangan global dalam patient safety lebih diarahkan untuk mencapai goals (tujuan). Tantangan tersebut antara lain :
1) Clean Care is safer care.
Perawatan yang bersih adalah perawatan yang aman. Tantangan pertama dalam patient safety ini dirumuskan pada tahun 2005, dengan penenekanan pada pencegahan infeksi. Aksi utama pada goals ini adalah kebersihan  tangan. Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam setiap tindakan pelayanan, sebelum dan sesudah berinteraksi dengan pasien, petugas kesehatan harus mencuci tangan guna mencegah penularan. Selain kebersihan tangan, hal lain dalam  Clean Care is safer care adalah kebersihan alat, prosedur, produk dan lingkungan. Kebersihan alat misalnya saat memberikan suntikan harus menggunakan alat suntik yang steril dan sekali pakai. Kebersihan prosedur misalnya pada saat melaksanakan tindakan perawatan (operasi) harus memperhatikan prinsip sterilitas. Kebersihan produk  misalnyan pada saat memberikan transfusi darah, produk darah harus benar-benar bersih dari bibit penyakit yang bisa ditularkan. Kebersihan lingkungan meliputi kondisi air dan udara disekitar ruang perawatan. Upaya promosi untuk dilaksanakannya Clean Care is safer care antara lain melalui :
a)    Komitment pemerintah
b)    Meningkatnya kesadaran tentang kebersihan
c)    Standart Operasional Prosedur yang mendukung
Tantangan pertama ini adalah suatu tindakan yang praktis dan sangat simple (mudah) untuk dilakukan, dengan hasil yang cukup berarti untuk menurunkan kasus-kasus  infeksi.
2) Save Surgery Save Lives
Tindakan yang aman akan menyelamatkan kehidupan. Pernyataan ini adalah tantangan kedua dalam global patient safety. Kejadian luka traumatis akibat suatu tindakan pembedahan, operasi dan lainnya dilaporkan banyak menyebabkan komplikasi atau beban ganda penyakit pasien. Tantangan untuk diterapkannya  save surgery lebih ditekankan pada pencegahan kejadian yang merugikan pasien ataupun membuat komplikasi yang menyebabkan kecacatan dan kematian pasien. Dalam perkembangan terakhir, dilaporkan bahwa keterbatasan infrastruktur dan peralatan, keterbatasan obat yang berkualitas, manajemen pengawasan infeksi, terbatasnya keterampilan dari petugas dan faktor biaya merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam global patient safety.
Menurut komite internasional yang fokus pada patient safety menetapkan beberapa solusi berkaitan dengan patient safety yakni :
a)    Pencegahan terhadap kejadian ”pasien jatuh”
b)    Pencegahan terhadap timbulnya  perlukaan
c)    Respon terhadap pasien dengan kondisi yang menurun
Mengkomunikasikan dengan jelas tentang hasil pemeriksaan


Medical Error

a.    Pengertian
Mendefinisikan medical error sebaiknya dipahami juga pengertian beberapa hal yang berkaitan dengan error, yakni konsep tentang keselamatan pasien (patient safety) kelalaian (negligence), dan Adverse event. Patient safety didefinisikan sebagai upaya menghindari, mencegah dan memperbaiki hasil yang merugikan pasien atau cidera akibat dari proses perawatan kesehatan (US National Patient Safety Foundation,1999). Brenan, seperti yang disitasi oleh Grober (2005) menjelaskan bahwa negligence adalah kegagalan untuk memenuhi standar perawatan pasien yang diharapkan dari dokter yang telah terkualifikasi. Adverse event adalah cidera atau komplikasi yang tidak diinginkan yang berakibat kecacatan, kematian atau memperpanjang waktu perawatan di rumah sakit yang disebabkan dari manajemen perawatan kesehatan (termasuk omission atau commission).
Medical Error didefinisikan dalam arti suatu proses yang gagal dan yang jelas ada keterkaitannya dengan akibat atau hasil negatif (Adverse Outcome). Reason (1997) mendefinisikan medical error merupakan deviasi atau penyimpangan dari proses perawatan yang mungkin (atau tidak) dapat menyebabkan kerugian bagi pasien. Pengertian tentang medical error ini secara eksplisit mencakup domain kunci dari penyebab kekeliruan (omission, commisssion, perencanaan dan pelaksanaan). Definisi tersebut menggambarkan bahwa setiap tindakan yang dilaksanakan tetapi tidak sesuai dengan rencana atau prosedur sudah dianggap sebagai medical error. Kejadian medical error yang dilakukan oleh petugas (human error) merupakan salah satu penyebab adverse event. Reason (1997) menjelaskan penyebab-penyebab terjadinya adverse event seperti dalam bagan berikut :


















 



















Gambar 1. Penyebab Kejadian yang Tidak Diinginkan (KTD) menurut Reason (1997)

Setiap tindakan perawatan kepada pasien selalu mengandung risiko. Risiko dapat berupa risiko yang langsung terjadi maupun risiko yang bersifat latent (perlahan tapi pasti). Sebuah risiko akan terjadi apabila tidak adanya pertahanan untuk mengalahkan bahaya yang mengancam (Reason, 1997). Kerugian yang ditimbulkan dari perawatan medis kadangkala tidak menyebabkan suatu cidera pada pasien, karena error yang terjadi dapat segera diidentifikasi atau dilakukan mitigasi, atau karena tidak adanya complain dari pasien atau bahkan karena faktor keberuntungan semata. James Reason mengilustrasikan tentang penyebab medical error dengan istilah “Swiss Cheese” yang dapat diaplikasikan dalam perawatan kesehatan. Menurut Reason, sistem dan lingkungan kerja merupakan lapisan pertahanan untuk melawan atau melindungi dari konsekuensi error yang terjadi. Terlepas dari hal tersebut, beberapa lubang atau kelemahan yang ada dalam setiap individu pada sistem perawatan kesehatan dapat menyebabkan timbulnya error tersebut. Cidera pada pasien akan terjadi apabila terdapat adanya kekeliruan yang mengisi lubang pada setiap lapisan pertahanan. Dalam suatu pelayanan kesehatan banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu kejadian yang merugikan pasien. Faktor – faktor tersebut antara lain; faktor manusia (human error), faktor organisasional (aturan-aturan, dan kebijakan-kebijakan pada setiap unit pelayanan). Sebagai manusia, dapat melakukan kesalahan dan kelalaian. Fokusnya harus pada faktor-faktor yang mempengaruhi kesalahan dan tujuan kegiatan sesuai dengan kondisi kerja. Kesalahan-kesalahan yang sering terjadi merupakan penyebab utama kejadian yang merugikan pasien. Kesalahan yang bersifat laten biasanya disebabkan oleh keputusan dan kebijakan yang dibuat oleh organisasi. Mereka menciptakan kondisi lokal yang menghasilkan kesalahan yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Contoh dari kesalahan laten adalah kekurangan staf dan kelebihan beban kerja.
 Scholfield (2008) menyebutkan bahwa dalam sebuah kajian mengenai analisis pencarian akar penyebab dari 37 kejadian kasus obstetri, 92% kasus tidak terdapat pedoman atau protokol praktik klinik dan 49% staf tidak terbiasa dengan protokol kerja dan gagal melaksanakannya. Faktor manusia merupakan faktor yang paling penting. Banyak kejadian dilaporkan tentang kelalaian atau kesalahan medis yang dilakukan petugas kesehatan. Kinerja seseorang hubungannya dengan kesalahan (error) yang dilakukan terbagi dalam 3 (tiga) tingkatan (Reason,2004) yakni :
a.       Knowledge based
Pada tingkatan ini sangat tergantung dari bagaimana kita bisa mengulang kembali kesalahan yang telah diperbuat dan mengkaitkanya dengan dasar-dasar teori yang pernah diperoleh. Kemampuan pengetahuan seseorang yang telah ditempuh merupakan hal yang mendasar untuk dapat merefleksi kembali kesalahan yang pernah dilakukan. Tanpa adanya dasar pengetahuan atau kognitif yang baik, maka kita tidak bisa mengambil pembelajaran dari kesalahan dengan baik.
b.   Rule based
Tingkatan ini terjadi ketika kita memodifikasikan perilaku yang harus dilaksanakan dengan situasi yang sedang terjadi. Pada tingkatan ini petugas diharuskan mampu mengaplikasikan tugas sesuai peraturan yang telah dibuat
c.    Skill based
Pada tingkatan ini petugas melaksanakan tugas dengan kemampuan praktik yang tinggi, terjadi secara otomatis dan dengan tingkat kesadaran yang tinggi.
Seperti telah diuraikan dalam bagian terdahulu, bahwa kesalahan-kesalahan yang mengancam keselamatan pasien tidak hanya disebabkan oleh kurang kompetennya petugas, tetapi juga disebabkan oleh fungsi organisasi yang memberikan peraturan/kebijakan yang harus dilaksanakan oleh petugas.
Medical error mempunyai 2 komponen yakni unsur manusia (Human) dan unsur sistem. Manusia sebagai provider seringkali dianggap sebagai komponen utama terhadap terjadinya suatu medical error, tetapi pada umumnya medical error dapat terjadi karena gagalnya sistem yang memberi peluang sehingga memungkinkan terjadinya suatu error. Unsur manusia hanya merupkan salah satu mata rantai saja, dan pola atau sistem dalam pelayanan kesehatan merupakan mata rantai yang lainnya.
Kejadian yang merugikan pasien atau medical error sebenarnya dapat dicegah (preventable medical error). Dari penelitian yang dilakukan oleh Blendon (2002) di Amerika, diketahui bahwa penyebab dari preventable medical error adalah; staff keperawatan pada rumah sakit, kelebihan beban kerja dan stress tenaga kesehatan, kompleksitas perawatan dan pengobatan, kurangnya pelatihan, kurang lengkapnya pendokumentasian secara tertulis, kurangnya supervisi, dan kurangnya sistem komputerisasi. Alasan yang lebih penting terjadinya error adalah kesalahan individual dan kesalahan sistem di instansi pelayanan.

b.    Tipe-tipe Medical Error
Tipe medical error berdasarkan aspek teknis dibedakan atas :
1)     Error of omission, yaitu tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan. Tipe error ini contohnya adalah keterlambatan dalam penanganan pasien atau tidak meresepkan obat untuk indikasi yang jelas.
2)     Error of commission, yaitu melakukan tindakan yang seharusnya tidak dilakukan. Tipe error ini contohnya adalah kesalahan dalam memutuskan pilihan terapi dengan memberikan obat yang salah, atau obat diberikan melalui cara yang salah.
Berdasarkan proses terjadinya, medical error dapat dibedakan :
1)     Diagnostik error; kesalahan atau keterlambatan dalam menegakkan diagnosis, tidak melakukan suatu pemeriksaan padahal ada indikasi untuk itu, penggunaan uji/pemeriksaan atau terapi yang sudah tergolong tidak dianjurkan lagi.
2)     Treatment error; kesalahan atau error dalam memberikan obat, dosis terapi yang keliru, atau melakukan terapi secara tidak tepat (bukan atas indikasi).
3)     Preventive error, memberikan profilaksi untuk situasi yang memerlukan profilaksi, dan pemantauan atau melakukan tindak lanjut terapi secara tidak adekuat.
4)     Lainnya (system error), pemakaian alat medis yang tidak sesuai atau kesalahan akibat kegagalan sistem, dan tidak terstandarnya alat medis yang digunakan untuk perawatan medis.

c.     Mencegah Terjadinya Medical Error
Menurut AHRQ (Agency for Healthcare Research and Quality), dalam rangka memaksimalkan patient safety, menyatakan bahwa terdapat beberapa elemen yang harus dilakukan oleh rumah sakit/ lembaga pelayanan kesehatan untuk mencegah medical error yakni :
1)    Mengubah budaya organisasi ke arah budaya yang berorientasi kepada keselamatan pasien. Perubahan ini terutama ditujukan kepada seluruh sistemsumberdaya manusia dari sejak perekrutan, sistem supervisi dan kedisiplinan. Rasa malu untuk melaporkan kesalahan dan kebiasaan menghukum petugas yang melakukan kesalahan harus dihindari agar petugas dengan sukarela melaporkan kesalahan kepada manajemen atau komite medis, sehingga dapat diambil langkah-langkah pencegahan kejadian serupa di kemudian hari.
2)    Melibatkan pimpinan kunci dalam program patient safety. Komitmen pimpinan dibutuhkan dalam menjalankan program-program manajemen risiko.
3)    Mendidik para profesional di rumah sakit dengan pemahaman tentang patient safety dan bagaimana mengidentifkasi errors, serta upaya-upaya meningkatkan patient safety.
4)    Membentuk Komisi Keselamatan Pasien di rumah sakit yang beranggotakan staf interdisiplin dan bertugas mengevaluasi laporan-laporan yang masuk, mengidentifikasi petunjuk adanya kesalahan mengidentifikasi dan mengembangkan langkah koreksinya
5)    Mengembangkan dan mengadopsi protokol dan prosedur yang aman
6)    Memantau dengan hati-hati penggunaan alat medis agar tidak menimbulkan kesalahan baru.
7)    Sesuai dengan peraturan dan undang-undang Kesehatan mewajibkan setiap tindakan medis mempunyai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Standar Pelayanan Medis (SPM), dimana semua petugas dalam melaksanakan tugasnya berpedoman pada SOP dan SPM.
d.    Upaya Mencegah Terjadinya Medical Error
Institute of Medicine mengemukakan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya medical error, antara lain :
1)      Pengukuran kinerja dan penerapan performance improvement system
Pengukuran kinerja ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain dengan mengumpulkan data dan monitoring terhadap outcome spesifik yang menjadi salah satu target potensial untuk terjadinya medical error. Hal ini sebenarnya dapat dilakukan secara rutin di tingkat rumah sakit atau di tempat pelayanan kesehatan yang lebih rendah. Tujuannya adalah untuk mendeteksi sedini mungkin terjadinya medical error, dan sekaligus menetapkan upaya perbaikan berdasarkan masalah yang dihadapi. Selain itu dapat pula dikembangkan program risk management. Program ini merupakan respons terhadap kejadian medical error, yang sebetulnya dapat dicegah, apabila prosedur dijalankan secara benar. Program-progam pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit adalah bentuk lain dari pengukuran kinerja dan sekaligus menyediakan instrumen untuk mencegah hal tersebut.
2)      Menetapkan strategi pencegahan berbasis pada fakta.
Beberapa langkah pencegahan risiko terjadinya medical error dapat dilakukan dengan cara :
a)     Mengidentifikasi dan memantau kejadian error pada sekelompok pasien dengan risiko tinggi serta memahami bagaimana error bisa terjadi, khususnya untuk yang bersifat preventable.
b)     Melakukan analisis, interpretasi dan medeseminasikan data yang ada pada para klinisi maupun stakeholders.
c)      Menetapkan strategi untuk mengurangi risiko terjadinya medical error dengan mempertimbangkan bagaimana strategi tersebut dapat diterapkan dalam sistem pelayanan kesehatan yang ada.
d)     Jika diperlukan dapat diundang para pakar dalam bidang klinis, epidemiologi klinis, atau managemen training untuk melakukan eksplorasi dan sekaligus memformulasikan solusi pemecahan.
e)     Evaluasi terhadap keselamatan pasient (patient safety). Instrument - instrument untuk menilai safety serta indikator patient safety dapat digunakan sebagai alat untuk menilai apakah telah terjadi perbaikan setelah dilakukan berbagai upaya koreksi.
3)      Menetapkan standar Kinerja untuk keselamatan pasien (patient safety).
Standar kinerja untuk keselamatan pasien betujuan untuk :
a)    Sebagai standar minimum kerja yang harus dilakukan oleh setiap petugas untuk meminimalkan terjadinya risiko.
b)    Standar kinerja yang dimaksud untuk menjamin konsistensi dan keseragaman prosedur bagi setiap petugas dalam melakukan tindakan medis, sehingga jika terjadi error maka dapat ditelusuri apakah standar yang digunakan adekuat.
c)    Menjamin bahwa pelaksanaan standar adalah dalam kerangka profesionalisme dan akuntabilitas.
Dalam suatu sistem atau organisasi, upaya pencegahan terjadinya risiko atau terjadinya medical error merupakan hal yang mutlak dilakukan, untuk itu perlu adanya penilaian risiko oleh tim yang ada dalam organisasi/instansi. Penilaian risiko bertujuan untuk mengidentifikasi risikon sebelum kejadian buruk terjadi, dan meletakkan prosedur untuk mengurangi risiko. Selanjutnya rencana aksi dikembangkan untuk mengatasi risiko. Penilaian risiko harus multidisiplin, dan harus berjalan secara reguler untuk memastikan bahwa semua aksi yang dilakukan dapat mengidentifikasi risiko yang terjadi. Menurut Scholfield (2008) penilaian terhadap risiko setidaknya mencakup beberapa hal yakni; tingkatan staff dan pelatihan serta kemampuan personel, organisasi lingkungan kerja yang aman bagi staf dan pasien, peralatan medis dan obat-obatan, serta prosedur-prosedur dan kebijakan dalam praktik yang dilaksanakan.

STUDY TENTANG MEDICAL ERROR PADA ASUHAN PERSALINAN OLEH BIDAN LULUSAN DIII KEBIDANAN
Asuhan kebidanan pada ibu bersalin merupakan kompetensi kritis bagi bidan. Risiko keselamatan pasien dan tidak terjadinya medical error menjadi hal utama yang diharapkan pasien. Kompetensi bidan sebagai provider menjadi kunci utama untuk tidak terjadinya medical error. Kompetensi ini mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan bidan dalam memberikan asuhan kebidanan. Dalam menjalankan kompetensi ini, dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal dari bidan adalah pendidikan, usia, dan lama kerja atau pengalaman kerja, sedangkan faktor eksternal meliputi fasilitas dan standar operasional prosedur yang ada di unit pelayanan kebidanan.
Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan angka-angka statistic yang dapat menjelaskan terjadinya medical error pada asuhan persalinan yang diungkapkan dari kualitas asuhan persalinan oleh bidan lulusan DIII kebidanan. Hasil analisis menunjukkan bahwa asuhan persalinan yang tidak baik mempunyai kecenderungan untuk terjadinya medical error sebesar 3 kali dan dapat disimpulkan bahwa 7% kejadian medical error tersebut dipengaruhi oleh kualitas asuhan persalinan yang diberikan bidan lulusan DIII. Prevalensi bertambah secara signifikan setelah dikontrol secara bersama sama dengan variable luar (kelengkapan fasilitas dan SOP).
Menurut  Scholfield (2008)  risiko atau error diantaranya dipengaruhi beberapa hal yakni; peralatan medis dan obat-obatan dan prosedur-prosedur serta kebijakan di tempat pelayanan. Hal ini didukung juga oleh studi yang dilakukan oleh Hobgood et a.l (2006) menyebutkan bahwa peralatan yang tersedia berpengaruh sebesar 12 % pada error ringan dan angka lebih tinggi pada error yang berat. Hasil analisis variable luar yang meliputi kelengkapan fasilitas dan ada dan tidaknya SOP (standar operasional prosedur) untuk melayani ibu bersalin, diketahui bahwa unit pelayanan kebidanan di tempat responden bekerja masih banyak yang tidak mempunyai alat/fasilitas yang lengkap sesuai standar, namun untuk SOP dan kebijakan yang diterapkan untuk pasien bersalin sebagian besar telah ada. Alat atau fasilitas yang belum semuanya ada adalah alat dan obat essensial untuk penanganan bayi baru lahir dengan komplikasi dan belum lengkapnya alat-alat perlindungan diri dan pencegahan infeksi.
Kelengkapan fasilitas dan alat serta prosedur yang jelas dalam menangani pasien memang menjadi hal yang penting yang harus ada pada suatu unit pelayanan kebidanan. Keberadaan dua hal tersebut jelas akan meningkatkan kualitas perawatan pasien dan mencegah terjadinya medical error. Medical error dapat dicegah diantaranya dengan kelengkapan fasilitas dan SOP, namun Lester dan Jonathan (2001) menjelaskan lebih jauh bahwa dalam upaya untuk menurunkan kejadian medical error penggunaan checklist, SOP, atau bahkan computerized decision aids akan menjadi sebuah ketegangan yang terjadi pada provider (dokter), dimana ketegangan tersebut terjadi antara proses perubahan karakter individu secara natural dengan proses berpikir dan bekerja. Penjelasan ini berfokus pada kematangan individu dalam proses sosialisasi (pemahaman dan internalisasi) profesi dokter. Perubahan terkini dalam praktek kedokteran yang bertujuan untuk menurunkan kejadian error lebih banyak diarahkan kepada individu dokter, karena adanya persepsi publik yang berkembang bahwa medical error adalah hal yang biasa terjadi dan sebagian besar dilakukan oleh dokter. Dari sudut pandang pendidikan kedokteran, konsep berpikir tentang error menjadi suatu perubahan pada aspek  pendidikan dokter, seperti halnya perubahan kurikulum yang disusun untuk perubahan positif guna menurunkan kejadian medical error. 
Departemen Kesehatan (2002) menetapkan kurikulum pendidikan kebidanan Diploma III, dimana dalam kurikulum tersebut telah  menggunakan pokok bahasan asuhan persalinan normal (APN) pada mata kuliah Askeb II (asuhan pada ibu bersalin) . Tujuan kurikulum ini adalah; bidan lulusan program studi diploma III kebidanan mampu melaksanakan asuhan persalinan yang bersih dan aman. Ini mendukung analisis yang menunjukkan bahwa asuhan kebidanan yang dilaksanakan pada ibu bersalin dapat dikategorikan baik, meskipun masih ada yang dikategorikan tidak baik, karena pada dasarnya bidan lulusan DIII kebidanan telah mempelajari APN sejak masa kuliahnya. Penguasaan kompetensi pertolongan persalinan menjadi hal utama bagi seorang bidan. Kualitas asuhan atau pelayanan yang diberikan bidan tentu saja dipengaruhi oleh sejauhmana bidan menguasai kompetensi tersebut.
Komponen inti kompetensi bagi bidan mencakup pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Ketiga hal tersebut dipelajari dan dilatih selama masa pendidikan. Kurikulum pendidikan bidan diimplementasikan dalam mata kuliah yang diikuti bidan merupakan hal yang penting. Kroll et al. (2008) dalam studi kualitatifnya menegaskan bahwa kekeliruan (error) menjadi hal yang signifikan dalam kurikulum. Kurikulum yang tidak memasukan materi tentang medical error dalam mata kuliah akan menjadikan atau meluluskan dokter muda yang tidak akuntabel. Demikian pula terhadap kurikulum DIII kebidanan yang diberlakukan di sejumlah program studi kebidanan di Indonesia, hampir seluruhnya mengacu pada kurikulum dari Depkes yang memang belum ada matakuliah yang membahas khusus tentang medical error atau lebih jauh tentang patient safety. Inilah permasalahan yang bisa dianalisis berkaitan dengan kecenderungan timbulnya gap antara tuntutan kompetensi bidan yang harus mampu memberikan pelayanan atau asuhan kebidanan yang bermutu tinggi dan aman bagi pasien, sedangkan materi untuk memahami tentang patient safety dan medical error dan hal-hal yang berkaitan dengan adverse event tersebut tidak dibahas secara focus dan mendalam.
Berdasarkan hasil self reported pelaksanaan asuhan pada ibu bersalin yang dilakukan oleh responden dikategorikan baik, meskipun masih ada yang dikategorikan tidak baik. Pelaksanaan asuhan pada ibu bersalin bagi bidan telah ditetapkan prosedurnya dalam APN (Asuhan Persalinan Normal). Dalam perkembangan 10 tahun terakhir, konsep APN terus diperbaiki. Perbaikan terkini dilakukan pada langkah baku  penatalaksanaan persalinan normal, pencegahan perdarahan pasca persalinan dengan manajemen aktif kala III persalinan, waktu yang tepat bagi pemberian oksitosin dan penjepitan tali pusat, inisiasi menyusu dini, kontak kulit ibu-bayi, resusitasi bayi baru lahir (BBL) dengan asfiksia dan pemeriksaan BBL (Jaringan Nasional Pelatihan Klinik-Kesehatan Reproduksi [JNPK-KR], 2008). Setiap bidan hendaknya mengikuti perkembagan terkini, guna meningkatkan kualitas pelayanan.
Perkembangan tersebut mencerminkan semakin kompleks dan komprehensifnya berbagai pengetahuan,keterampilan, dan sikap yang diperlukan dalam menjamin terselenggaranya persalinan bersih dan aman bagi setiap ibu bersalin dan jaminan kelangsungan hidup sehat bagi bayi baru lahir. Inilah yang harus diperhatikan bidan untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terkini sesuai perkembangan jaman. Bidan yang tidak proaktif dengan perkembangan ilmu dan keterampilan atau tidak memperhatikan hal-hal penting dalam pelayanan tentu saja akan meningkatkan risiko terjadinya kekeliruan atau error. Jika dilihat dari pengalaman bekerja dan tempat kerja responden, sebagian besar responden mempunyai pengalaman bekerja 1 tahun, sedangkan sebagian besar bekerja di puskesmas dan di RB. Lama kerja atau pengalaman tentu saja mempengaruhi kinerja seseorang. Meskipun Hobgood et a.l (2006) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa karakteristis responden berdasarkan umur, jenis kelamin, ras, pengalaman kerja, tingkat kemampuan teknis medis, dan status kepegawaian tidak menunjukkan angka yang significant terhadap terjadinya error. Kondisi yang tergambarkan dari karakteristik responden dalam peneliatan ini merupakan kondisi yang bisa mempengaruhi terjadinya medical error dalam pelayanan kebidanan pada ibu bersalin yang dilaksanakan oleh bidan lulusan DIII.
Hasil analisis karakteristik responden menggambarkan bahwa sebagian besar responden adalah bidan lulusan tahun 2005 dan sebagian besar adalah lulusan dari institusi pendidikan kebidanan swasta dengan program regular (lulusan dari SMA). Ini dapat diartikan bahwa dasar ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh sebagian besar adalah ilmu dan keterampilan yang berkembang 6 tahun terakhir, sedangkan bidan yang memperoleh bekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan terkini yakni bidan lulusan tahun 2009 prosentasenya lebih sedikit.
Penelitian ini mendapatkan data kejadian medical error sebesar 41,5% (n=22) paling banyak terjadi pada tindakan pertolongan persalinan sebesar 26.42% (n=14) dan upaya pencegahan infeksi sebesar 18.87% (n=10). Error yang terjadi pada tindakan pertolongan persalinan sebagian besar terjadi kekeliruan pada penaganan awal kasus kegawatan pada ibu dan masih dilakukannya dorongan pada fundus uteri untuk mempercepat kelahiran bayi, sedangkan Error yang terjadi pada upaya pencegahan infeksi, sebagian besar responden (56.60%) tidak mencuci tangan 7 langkah sebelum dan sesudah menangani pasien.
Terjadinya medical error pada aspek pertolongan persalinan yang sebagian besar terjadi pada kekeliruan penanganan kegawatdaruratan seperti yang disampaikan DeJoy (2010) dalam studi kualitatif tentang persepsi mahasiswa kebidanan mengenai bidan dan persalinan,  meskipun beberapa mahasiswa percaya bahwa pada komplikasi akan terjadi pada setiap persalinan, sebagian besar mahasiswa merasa  pengetahuan yang sudah mereka peroleh belum cukup untuk menjelaskan atau memahami komplikasi yang terjadi. Bagaimanapun pengetahuan dan ketrampilan untuk menangani kasus komplikasi masih sangat kurang. Pada setiap komplikasi, tersebar persepsi bahwa operasi Caesar menjadi satu satunya solusi untuk mengatasi komplikasi selama persalinan. Keadan ini tidak jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia saat ini. Terbatasnya kesempatan untuk turut serta dalam menangani kasus komplikasi persalinan selama praktik dan batas kewenangan bidan untuk mengatasi masalah komplikasi menjadi salah satu kendala untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan yang cukup dalam mengatasi kasus komplikasi. Keputusan untuk merujuk merupakan hal yang penting untuk dilaksanakan, namun apa yang harus dilakukan sebelum merujuk merupakan hal yang lebih penting untuk dipelajari dan dipraktikkan.
Medical error yang terjadi pada upaya pencegahan infeksi sebagian diketahui bahwa 56.60% bidan tidak melakukan cuci tangan 7 langkah sebelum dan sesudah menangani pasien. Cuci tangan yang dilakukan secara benar dan tepat 7 langkah tidak dilakukan, padahal dalam APN hal tersebut diharuskan sebagai universal precaution. Dari data kelengkapan alat, diketahui masih banyak fasilitas kebidanan yang tidak mempunyai alat perlindungan diri sesuai standar. Dalam kenyataan, alat perlindungan diri seperti kaca mata, masker, tutup kepala dan sepatu booth yang sudah adapun tidak digunakan secara maksimal. Sesuatu yang tidak biasa bagi bidan seringkali menjadi hambatan untuk menerapkan standar.
Perilaku mencuci tangan 7 langkah belum menjadi kebiasaan bidan, meskipun jika dilihat di tempat praktek mereka, sudah banyak poster tentang pentingnya mencuci tangan 7 langkah. Keadaan ini sesuai dengan studi tentang kualitas asuhan persalinan normal yang dilakukan oleh Therese et al. (2007). Sebagian besar bidan tidak mencuci tangan sebelum memeriksa pasien atau menolong persalinan, perineum juga tidak pernah dibersihkan sebelum dilakukan pemeriksaan vagina dan pertolongan persalinan, meskipun mereka mencuci tangan sesudah menolong persalinan, namun tanpa desinfeksi. Penggunaan sarung tangan disposible dan alat atau instrumen telah diperhatikan kesterilannya.
Data dari hasil penelitian ini diperoleh dengan melihat medical error dari sisi provider, dalam hal ini adalah bidan. Beberapa penelitian tentang medical error juga dilakukan dengan melihat outcome kejadian medical error misalnya complain pasien, hasil audit kasus dan dengan model self identify, self report baik dengan memberikan kuesioner maupun wawancara atau dengan studi kasus (Grober,2005). Hobgood et al. (2006) dalam penelitiannya mengidentifikasi bahwa pada kategori error ringan proporsi terjadinya kesalahan diagnosis adalah 80%, lebih tinggi dari error yang terjadi pada saat tindakan dan program pengobatan, sedangkan untuk error pada pemberian obat sebesar 98% (95% CI 8-16). Lombaard dan Robert (2009) dalam studinya menyebutkan bahwa pelayanan dibawah standar menyebabkan kejadian kematian ibu  yang lebih tinggi dibandingkan dengan kejadian nearmiss, meskipun bentuk error sama, namun terdapat perbedaan proporsi dimana kejadian nearmiss lebih kecil proporsi terjadinya error (0,61) dibandingkan dengan proporsi kejadian error pada kasus kematian ibu (2,25). Pola error yang sering terjadi diantaranya terjadi dalam bentuk kesalahan pada pengkajian (assessment), penentuan diagnosa, keterlambatan merujuk, penanganan yang salah, pelayanan di bawah standar, tidak dimonitor, terlalu lama memonitor kasus abnormal tanpa melakukan tindakan dan resusitasi.     
Mengungkap masalah medical error memang tidaklah mudah, karena error merupakan hal negatif yang selayaknya tidak terjadi. Namun bagi orang yang memahami konsep tentang medical error dan keselamatan pasien,ini menjadi penting untuk diungkap untuk dijadikan refensi pembelajaran dalam meningkatkan pelayanan kepada pasien. Kaldjian et a.l (2007) dalam studinya tentang sikap dan perilaku dokter untuk pengungkapan medical error pada pasien, menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara sikap dan perilaku dokter berkaitan dengan pengungkapan medical error. Kerelaan untuk mengungkapkan error berhubungan dengan tingkat pelatihan yang lebih tinggi dan kondisi pasien. Penelitian ini juga menyebutkan bahwa kesediaan untuk mengungkapkan error lebih banyak prosentasenya (77%) pada kasus error yang mengakibatkan kerugian pasien yang lebih berat. Singkatnya, semakin tinggi pemahaman tenaga kesehatan tentang medical error, maka pengungkapan error dan upaya –upaya untuk mencegah error lebih diperhatikan. Kejadian medical error yang terjadi atau dilakukan oleh responden mencakup type error omission maupun type error commission. Error of comission merupakan type yang sering terjadi pada responden. Kekeliruan dalam memberikan asuhan antara lain adalah; kekeliruan pada saat menentukan diagnose pada ibu bersalin. Ada kecenderungan bidan yang baru saja lulus belum bisa menentukan pembukaan serviks secara tepat sebagai dasar untuk menegakkan diagnose. Perlu latihan dan pengalaman yang lebih,sedangkan selama masa studinya bidan kurang latihan dan kurang mendapatkan kesempatan.



REFERENCE :

Blendon Robert, J., Chaterine, M. (2002) Views of Practicing Physicians And The Public On Medical Errors, N Engl J Med, 347(24): 1933-1940

Buken Erhan, Nuket O B, Bora Nuken. (2004) Obstetric and Gynecologic malpractice in Turkey: Incidence, Impact, Causes and Prevention, J Clin Forensic Med, 11(5):233-247

Carroll, R. ed. (1997) Risk Management Handbook for Heath Care Organizational, America: American Hospital Publishing.

Dwiprahasto (2008, Juli), Aspek Legal Pelayanan Kebidanan dan Upaya untuk Meminimalkan Risiko Error dalam Praktek. Naskah dipresentasikan dalam Seminar Sehari; Selamatkan Ibu dan Bayi, Hindari Medical Error dan Medical Mal Practice, IBI Cabang Kota Yogyakarta, Yogyakarta

DeJoy, Sharon, Bernecki. (2010), “ Midwife Are Nice, But…”: Perceptions of Midwifery and Childbirth in an Undergraduate Class, J Midwifery Womens Health, 55:117-123

Gallagher T., Thomas H., Jane G.  (2006), Choosing Your Words Carefully: How Phsysicians Would Disclose Harmful Medical Errors to Patiens, Arch Intern Med, 166 (15):1685-1593

Grober, E.D., John , Bohnen (2005) Defining medical error, Can J Surg, 48 (1): 39-44.

Hernawati, Ina. (2011), Kebijakan Jampersal dalam Peningkatan Persalinan Aman. Naskah dipresentasikan dalam Rakernas IBI ke V, Solo

Hobgood, C., Bowen, J.B., Brice, J.H., Overby, B., Tamayo-Sarver, J.H. (2006) Do EMS Personnel Identify, Report, And Disclose Medical Errors?, Prehospital Emergency Care,10:21–27

Institute of Medicine. (1999) To err is human: building a safety health system. National Academy Press, Washington DC


IBI (2011, Oktober) Sistem dan Standar Pendidikan Bidan. Naskah dipresentasikan dalam Rakernas IBI ke V, Solo

International Confederation Of Midwives, (2011) Essential Competencies for Basic Midwifery Practice 2010, available at www.internationalmidwives.org accesed 25 January 2012
           
Kaldjian,  L.C., Jones,  E.W.,  Wu, B.J., Forman-HofĂ­man, V.L., Levi, B.H.,
 Rosenthal,G.E. (2007)   Disclosing   Medical  Errors  to  Patients:
 Attitudes  and  Practices of   Physicians   and Trainees.  Society   of
 General   Internai Medicine, 22:988-996

Kroll, L., Singleton, A., Collier, J., Jones, I.R.  (2008) Learning not to take it seriously: junior doctor`s accounts of error, Medical Education, 42:982-990

Leanda, K., Singleton, A., Collier, J., Jones, I.R.  (2008) Learning not to take it seriously: junior doctor`s accounts of error, Medical Education, 42:982-990
                                                                                                          
Lester, H. & Jonatthan, Q.T. (2001) Medical Error: a Discussion of the medical      construction of error and suggestions for reforms of medical education to decrease to error, Medical education, 35:855-861

Lofmark, A., Smide, B., and Wikblad, K. (2006), Competence of Newly-Graduated Nurses-Comparison of the Perception of Qualified Nurses and Students. Journal of Advanced Nursing,  53(6), 721–728

Lombaard, H. & Robert, C.P.  (2009)  Common   errors and  remedies  in
managing  post   partum  haemorrhage,  Best  Practice  & Research
 Clinical and Gynaecology, XXX:1-10

Manus, I.C., Richards, P., Winder, B.C.,Sproston, K.A. (1998 ), Clinical experience, performance in final examinations, and learning style in medical students: prospective study, BMJ, 316;345-350

Reason, J. (1997) Managing The Risk of Organizational Accidents, Burlington, USA Ashgate Publishing

Scholefield, H. (2008) Safety in Obstetric Critical Care, Best Practice & Research Clinical Obstetrics and Gynaecology, 22 (5):965-982

Seiden, S.C, Galvan, C., Lamm, R. (2006) Role of Medical Student in Preventing Patient Harm and Enhanching Patient Safety, Quality and Safety in Health Care, available on http://qshc.bmj.com/cgi/content accesed : 14 May 2008

Seminar Sehari HUT ke-57 IBI 2008, Yogyakarta. (2008) Selamatkan Ibu dan Bayi, Hindari Medical Error dan Medical Mal Practice, Iwan Dwi Prahasto, Yogyakarta, IBI Cabang Yogyakarta

Stelfox, H.T., Palmisani, S., Scurlock, C. (2006) The “To Err is Human” Report and The Patient Safety Literatur, Quality and Safety in Health Care, available on http://qshc.bmj.com/cgi/content accesed : 14 May 2008


Therese, Delvaux., Ake Tam Odile., Gohou Kouassi Valerie.,  Bosso Patrice., Collin Simon., Konsmans Carine. (2007), Quality of normal delivery care in Cote d'lvoire, African Journal of Reproductive Health, Vol. 11 No.1 April

Utarini, A., (2011) Mutu Pelayanan Kesehatan Di Indonesia: Sistem Regulasi yang Responsif, Naskah disampaikan dalam Pidato Pengukuhan Jababatan Guru Besar pada fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Vincent C, Graham Neale, Maria Woloshynowych. (2001) Adverse Event in British Hospital, Preliminary Retrospective Record Review, BMJ ;322;517-519

Vincent, CA and A Coulter. (2002) Patient Safety: What about the patient Quality and Safety in Health Care, available on http://qshc.bmj.com/cgi/content accesed : 14 May 2008

Weiner, S.J., Alan, S. Rachel, Y., Gordon, D.S., Frences, M.W., Julie, G.& Kevin, B.W. (2007) Evaluating Physician Performance at individualizing Care: A pilot Study Tracking Contextual errors in Medical Decision Making, Med Decis Making: 27;726-734


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar